Pengunjung

Sabtu, 30 Juli 2011

Artikel

Lukman Hakim dan Keledai
Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.

Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."

Sumber: Didaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas

Dari Sahabat..

Jumat, 15 Juli 2011

Artikel


Ilmu-Ilmu Tradisional yang Berbau Mistik, Masikah Relevan Masa Kini?


Marilah kita mulai dengan mengangkat sebuah cerita tiga orang tokoh di telaga Mawang. Cerita ini diambil dari sebuah Lontara tentang hikayat Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka. Ketiga tokoh itu adalah Lu'muka ri Antang, Datoka ri Pa'gentungang dan Tuanta Salamaka. Ketiganya sedang memancing ikan di Mawang dalam keadaan hujan rintik-rintik diselingi sekali-sekali dengan sambaran kilat. Hampir serempak mereka ketiganya menggulung rokok. Setelah rokok digulung, Lu'muka ri Antang menyulut rokoknya pada titik hujan yang menitik melalui saraungnya, yaitu semacam topi (sombrero) yang dipakai oleh petani di sawah ataupun nelayan di laut. Datoka ri Pa'gentungan membakar rokoknya ketika kilat sedang menyambar. Sedangkan Tuanta Salamaka turun ke telaga Mawang, memasukkan tangannya yang memegang rokok hingga siku, kemudian menarik tangannya keluar air, dan menyalalah rokoknya. Cerita itu berbau mistik.

Sebenarnya di situlah letak kejeniusan nenek moyang kita. Menyelipkan cerita yang berbau mistik dalam suatu cerita. Perisitiwa di telaga Mawang itu sebenarnya mengandung sebuah pesan berupa ilmu yang tersirat, yang perlu disimak, dicerna dengan mempergunakan akal budi. Apa yang diceritakan pengarang hikayat Tuanta Salamaka di telaga Mawang itu mengandung ilmu yang tersirat, yang disajikan dalam gaya perumpamaan, yang kelihatannya berbungkus mistik. Inilah gaya para ilmuwan nenek moyang kita. Inilah gaya dalam ilmu tradisional, yang tidak disodorkan secara langsung, melainkan harus disimak apa yang tersirat dibalik bungkusan mistik itu.

Adapun Lu'muka ri Antang yang menyulut rokoknya di titik air hujan yang menitik melalui saraungnya, maksudnya adalah suatu sikap attayang panggamaseang batu ri Allataala. Menanti Rahmat Allah SWT. Menanti bukan sembarang menanti, melainkan menanti dengan mempersiapkan diri untuk Rahmat Allah. Ini dilambangkan dengan saraung di atas kepala. Tanpa saraung ia tidak akan mendapatkan titik air yang dikehendakinya. Secara ruang lingkup yang lebih luas, sikap menanti Rahmat Allah SWT, adalah mereka para petani yang mengerjakan sawah tadah hujan.

Adapun Datoka ri Pa'gentungang yang membakar rokoknya melalui sambaran kilat, melambangkan suatu sikap yang selalu menyiapkan dirinya untuk mendapatkan Rahmat Allah dengan meraih kesempatan yang liwat di depaannya, walaupun yang akan diraih itu melintas dengan sanangat cepat ibarat kilat. Mereka ini di zaman dahulu maupun sekarang adalah para entrepreneur yang sigap.

Dan yang terakhir, Tuanta Salamaka yang masuk ke dalam telaga adalah melambangkan orang yang sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkan Rahmat Allah, tidak hanya sekadar menunggu seperti Lu'muka ri Antang, juga bukan hanya sekadar meraih kesempatan yang melintas seperti Datoka ri Pa'gentungang, melainkan menyonsong datangnya Rahmat Allah.

Inilah pelajaran yang dapat kita sauk dari ilmu tradisional warisan nenek moyang kita. Membungkus ilmu yang sangat berguna bagi kita di dalam bungkusan yang berbau mistik. Kesimpulannya ilmu tradisonal yang semacam itu masih sangat relevan hingga dewasa ini dan insya-Allah masih akan relevan di waktu yang akan datang. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 23 Februari 1992 [H.Muh.Nur Abdurrahman]

Senin, 04 Juli 2011

Artikel

Didik Anak Cara Luqmanul Hakim

Surah Luqman secara umum, terutama ayat 13-19 difahami sebagai surah yang harus dibaca saat prosesi aqiqah atau kesyukuran atas kelahiran seorang anak, dengan harapan bahwa bapa nantinya dapat mencontohi tokoh Luqman yang diabadikan wasiatnya dan si anak juga dapat mengikuti petua dan nasihat seperti halnya anak Luqman. Tentu pemahaman ini dapat diterima, mengingat secara  ayat-ayat ini memang membincangkan secara khusus tentang pesan Luqman dalam teknik atau cara mendidik anak sesuai dengan pesan Al-Qur’an. Apalagi pesan Luqman dalam surah ini sebenarnya adalah pesan Allah yang dibahasakan melalui lisan Luqman Al-Hakim ,

Apa Luqman kata, Allah telah menceritakan dalam Quran Surah Luqman ayat 13-19, lihat:
“Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasihat kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar ….. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.

Apa yang perlu anda faham ?
Surah Luqman secara umum, terutama ayat 13-19 difahami sebagai surah yang harus dibaca saat prosesi aqiqah atau kesyukuran atas kelahiran seorang anak, dengan harapan bahawa bapa  nantinya dapat mencontohi tokoh Luqman yang diabadikan wasiatnya dan si anak juga dapat mengikuti petua dan nasihat seperti  anak Luqman tersebut.
Tentu pemahaman ini dapat diterima, mengingat secara gambaran ayat-ayat ini memang membincang secara khusus tentang pesan Luqman, cara mendidik anak sesuai dengan pesan Al-Qur’an. Apa lagi pesan Luqman dalam surah ini sebenarnya adalah pesan Allah yang dibahasakan melalui lisan Luqman Al-Hakim sehingga sifatnya mutlak dan mengikat; pesan Luqman dalam bentuk perintah, bermaksud perintah Allah, demikian juga nasihatnya dalam bentuk larangan pada masa yang sama adalah juga larangan Allah yang harus dihindari.
Luqman yang dimaksud dalam ayat-ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ia adalah anak dari seorang bapak yang Tsaaran. Pengabadian kisah Luqman memang berbeda dengan pengabdian tokoh lain yang lebih komprehensif. Pengabadian Luqman hanya berkisar seputar nasehat dan petuanya yang sangat layak dijadikan acuan dalam mendidik anak secara Islam.
Tentu masih banyak lagi cara Islam dalam mendidik anak berdasarkan ayat-ayat atau hadits Rasulullah saw yang lain. Namun paling tidak, pesan Luqman ini bukan sekadar pesan biasa umumnya seorang bapa kepada anaknya, namun merupakan pesan yang penuh dengan sentuhan kasih sayang dan penuh dengan muatan idealogi serta tersusun berdasarkan keutamaan.

Bermula dari pesan agar:
a.       Mengesakan Allah
b.      Tidak menmpersekutukannya
c.       Bersikap tawadu’ dan santun yang tercermin dalam cara berjalan dan berbicara.
Kedua jenis pesan dan nasehat tersebut ternyata tidak keluar dari dua prinsip utama dalam ajaran Islam iaitu ajaran tentang akidah dan akhlak. Ini konsep pendidikan Luqman yang paling penting dan perlu di contohi.
Menurut Sayid Quthb, rangkaian ayat-ayat yang membincangkan tentang Luqman dan nasihatnya yang diawalkan dengan anugerah hikmah kepada Luqman di ayat 12 merupakan pembahasan kedua dari pembahasan surah Luqman yang masih sangat berkaitan dengan pembahasan episod pertama, iaitu persoalan akidah.

Pesan Luqman sendiri pada asasnya adalah pesan akidah yang memiliki beberapa maksud; di antaranya berbakti dan berbuat kebaikan kepada kedua orang tua sebagai bukti rasa syukur atas kasih sayang dan pengorbanan mereka merupakan tuntutan atas akidah yang benar kepada Allah swt. Sentiasa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap langkah dan perbuatan merupakan gambaran sebenar dari keyakinan akan sifat Allah Yang Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Mengawasi.
Kemudian dari segi menjalankan kerja amar makruf dan nahi munkar yang disertai dengan sikap sabar dalam menghadapi segala rintangan dan tentangan merupakan bukti akan kekuatan iman yang bersemayam di dalam hati sanubari, hingga pada pesan untuk sentiasa bersikap tawaduk dan tidak sombong, baik dalam tingkah laku mau pun dalam bercakap. Semuanya tidak lepas dari ikatan dan tuntutan akidah yang benar.
Pembahasan tentang akidah dalam surah ini memang wajar kerana surah Luqman termasuk surah Makkiyyah yang memberi fokus pada penanaman dan memperkuatkan akidah secara utama..

Siapa Luqman alhakim.
Terdapat banyak pendapat siapa Luqman,  apakah ia seorang nabi atau ia hanya seorang lelaki soleh yang diberi ilmu dan hikmah, yang jelas jumhur ulama lebih cenderung memilih pendapat yang mengatakan bahwa ia hanya seorang hamba yang soleh dan ahli hikmah, bukan seorang nabi seperti yang diperkatakan oleh sebagian ulama. Gelaran Al-Hakim di akhir nama Luqman tentu gelaran yang tepat untuknya sesuai dengan ucapannya, perbuatan dan sikapnya yang memang menunjukkan sikap yang bijaksana. Allah sendiri telah menganugerahnya hikmah seperti yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya: Lihat ayat 12 ;
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji“. (Luqman: 12)
Yang menarik disini bahawa Luqman bukanlah seorang yang terkenal atau memiliki pengaruh. Ia hanya seorang hamba Habasyah yang berkulit hitam dan tidak punya kedudukan sosial yang tinggi di dalam masyarakat. Namun hikmah yang diterimanya menjadikan ucapannya dalam bentuk pesan dan nasihat layak untuk diikuti oleh seluruh orang tua tanpa terkecuali. Hal ini terungkap dalam riwayat Ibnu Jarir bahwa seseorang yang berkulit hitam pernah mengadu kepada Sa’id bin Musayyib. Maka Sa’id menenangkannya dengan mengatakan: “Janganlah engkau bersedih (berkecil hati) karena warna kulitmu hitam. Sesungguhnya terdapat tiga orang pilihan yang kesemuanya berkulit hitam, yaitu Bilal, Mahja’ maula Umar bin Khattab dan Luqman Al-Hakim”.

Demikian nasihat dan pesan Luqman dalam mendidik anaknya yang didahului oleh pendidikan akidah tentang keEsaan Allah dan pengetahuanNya yang hebat yang akan melahirkan sikap hamba Allah, rendah diri, hati-hati dan muraqabatuLlah dalam bersikap dan bertindak. Kekuatan dan kemantapan akidah tersebut akan bertindak balas dalam berakhlak dan berperilaku kepada orang lain, terutama sekali terhadap kedua orang tua. Sungguh satu upaya yang serius dari seorang Luqman yang bijak untuk mendekatkan dan memperkenalkan seorang anak sejak dini dengan Penciptanya yang menampak pada kebaikan dan kesejahteraan lahir dan batin, serta menjadikannya memiliki tingkat pertahanan dan pertahanan diri yang kukuh bagi menhadapi bermacam godaan kehidupan yang dirasa kian melalaikan dan menjerumuskan.

Ringkasnya ialah:
1.      Menjadi anak yang beriman pada Allah dengan sebaik-baik mungkin
2.      Menjadi anak yang hormat dan taat pada ibubapanya
3.      Berbuat baik pada masyarakat

Allahu a’lam.

Dari Sahabat "Langit Ramadhan"

Jumat, 01 Juli 2011

Artikel

"Macam-macam Bentuk Seorang Aktivis Da'wah"

Klo kita nyebut Aktivis Da'wah, mungkin akan identik dengan Aktivis2 Harokah tertentu.  Aktivis Da'wah itu Umum untuk siapa saja yang aktif di Bidang Da'wah. Naah, ngomong2 tentang aktivis Da'wah, aktivis Da'wah itu kan bermacam-macam karakternya masing2. berikut ini adalah macam-macam Aktivis Da'wah berdasarkan karakternya masing2:

1. Aktivis TULEN ( betul- betul Kereeeeen )

Nah, aktivis yang satu ini yang patut di contoh. dia nih Getol banget Ngaji & Da'wahnya. setiap waktu kosong langsung Tilawah. setiap ada waktu Liqo, Ya langsung tancap Gas Meskipun harus Naik Taksi Getar ( BAJAJ ). Klo lagi gak bisa dateng ya Ngirim SMS Tausiyah ke tmn2 atau kirim Notes lewat FB.

Meskipun ni orang sering bikin Inbox Hp Atau Fb kita penuh, tapi ya kita ambil aja manfaatnya aja, jarang2 orang kayak gini lhoo !
Jempol gede buat Aktivis Ini !!!!!!

2. Aktivis Apa adanya Aja ( A4 )

Aktivis yang satu ini, klo timnya lagi semangat, dia semangat, klo timnya lagi lemes, dia lemes juga. klo lagi ada dana, rajin bikin acara, klo gak ada dana, ya gak bikin. klo temen ngaji dateng,ya ngaji, klo gak dateng, ya pulang. pokoknya yang ada aja , yang gak ada, ya gak di ada-adain, ntar malah jadi ada-ada aja, begitulah Prinsip dia.

3. Aktivis SKSD ( Sibuk Kerja, Stop Da'wah )

Memang betul, bekerja Itu Wajib, tapi janganlah lupakan Ukhuwah sesama Aktivis Da'wah. dengan Gaji sebulan yg lumayan, masa sih gak bisa ngirim SMS Tausiyah sekali aja dalam seminggu. atau klo bisa pergi ke warnet 15 atau 30 menit utk ngirim Notes berisi ayat2 Qur'an Atau Hadits2 Shahih, Warnet Gak mahal kok.

4. Aktivis UNPAD ( Usai Nikah, luPA Da'wah )

la la la la.....
Kupinang engkau....
dengan Alqur'an....

lagu siapa yaa?

Nikah memang Sunnah Nabi kita. akan tetapi janganlah Indahnya kehidupan pernikahan membuat Kita lupa pada tugas Da'wah kita. Klo untuk Aktivis Akhwat, bisa dimengerti klo mereka akhirnya jadi gak aktif lagi, karena ladang da'wah utama mereka ya di Rumah. Tapi untuk Ikhwan , janganlah kalian jadi Lupa medan Peperangan.

Rasulullah Bersabda :
"Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor-ekor sapi (sibuk ternak), ridho dengan bercocok tanam (sibuk tani), dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas diri kalian; tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian".

[HR. Abu Dawud dalam Kitabul Ijaroh (3462). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)]

5. Aktivis SLJJ ( setelah Lulus, Jauhin Jama'ah )

Ada sebuah lirik lagu :

Masa-masa paling indah....
Masa-masa di Sekolah ....

di masa-masa sekolah/ Kuliah, klo lagi kesulitan pelajaran, datengnya ke temen sesama Aktivis, klo lagi ada masalah, Curhatnya ke temen sesama Aktivis, klo lagi Bete, larinya ke Masjid, makanya rajin Ngaji. eeeeeh, begitu lulus, kayak kacang lupa kulitnya deh. jangan ampe deh kayak gini

6. Aktivis DONAT ( DOyannya NAsyid To' )

Aktivis yang kayak gini nih, klo lagi ada Konser Nasyid untuk Palestina, berdiri paling depan, pake baju tulisannya "save Palestine", gak lupa pake Syal. tapi klo pas Liqo, duduk paling paling belakang ( Ngumpet ), biar gak ditunjuk murabbi untuk Tilawah.

7. Aktivis Afwan

klo Aktivis yg satu ini sebenarnya maleeeees banget. tapi dia selalu pake kata " AFWAN " buat nutupin kemalasannya. klo disuruh Liqo, paling2 jawabannya : Afwan ane gak bisa. tapi mungkin klo diajak nonton Ayat2 Cinta atau KCBdi bioskop, jawabannya : Afwan, jangan lama2 , ane udah gak sabar nih !

8. Aktivis Merah Jambu

aktivis yg satu ini, klo dilihat Status Atau Notes di FBnya, Merah Jambu semua alias Lope melulu. tapi herannya gak nikah-nikah. akhirnya nih orang jadi ganjen & gak bisa jauh dari kaca ( kadang2 juga nyuri-nyuri kesempatan buat ikhtilath dengan alasan Klise : Maslahat da'wah ) . ati-ati mas, jangan main2 dengan hati, karena kalo udah patah, di pasar gak ada yg jual.

9. Aktivis Merah Kebakaran

klo tadi aktivis merah jambu, klo sekarang Aktivis Merah Kebakaran. maksudnya, aktivis yg satu ni terlalu semangat banget klo masalah Jihad. hobinya nonton Video2 Jihad Produksi Arrahmah, atau nonton Video2 Jihad lewat Youtube. semangat sih boleh mas, tapi harus dilihat realita di Indonesia. jangan sampe semangat kita di manfaatin Intel2 yang tujuannya merusak Citra Islam. Allahu akbar !!!!
  
10. Aktivis Ember

Hati2 ama aktivis yg satu ini.kerjaanya memprotes sesama Aktivis di depan orang-orang. apalagi klo lagi rapat pertanggungjawaban pengurus pemuda Masjid, dia tuh suka ngejatuhin orang2 yg dianggap gak becus, padahal, yg namanya berorganisasi, kan kita juga sedang belajar.


11. Aktivis Geng

Aktivis yg satu ini, gak kompak sama orang yg di luar Ormasnya/ jama'ahnya/ Partainya. bahkan sampe-sampe gak mao Nikah ama orang yg diluar jama'ahnya. padahal, ormas2/ jama'ah2/ partai2 Islam sepakat bahwa ormas bukanlah tujuan, melainkan kendaraan.


12. Aktivis Soknyun ( Sok Nyunnah )

Aktivis yg satu ini, klo dilihat Tilawahnya, beeeeeh, mantab. Sholatnya, beeeeeh, nyunnah banget. jenggotnya, beeeeeeh, panjang gan !! tapi herannya,kok nyebelinnya bukan maen. sok paling sesuai sunnah sendiri, yang gak sepemikiran ma dia dibilang BID'AH. lebih ngeselinnya lagi, dia klo diajak amar ma'ruf Nahi munkar Pasif banget .

coba aja, klo dia disuruh mentarbiyah temen2nya yg masih Hedon, jawabannya gak jauh-jauh dari : ane bukannya gak mao mentarbiyah, tapi ane sendiri sedang mentarbiyah diri sendiri. udah lah, antum belajar agama dulu yg bener, klo masalah tmen2 kita yg masih Hedon, kita suruh aja mereka dateng ke pengajian, atau baca Kitab2 Hadits, klo mao syukur, gak mao ya udah !
Begitu kata dia.

arrrrrrrrggggggghhhh ! emang segampang itu apaaaaa ?



13. Aktivis Piknik

Aktivis yang satu ini rajin ngumpulnya cuma klo ada acara Tafakur Alam, walimahan, dsb



14. Aktivis petasan Roket

Pernah lihat petasan Roket ??? petasan Roket klo meluncur bunyinya keren, tapi, setelah meledak & bahannya abis, yg keluar cuma parasutnya doang . Maksunya Aktivis petasan Roket itu, dia itu semangatnya membara, tapi gak tahan lama. klo udah capek, BABLAS. abis nonton Video Palestina semangat, abis Demo anti Zionis semangat, tapi pas pulang capek, masuk angin, tidur, besoknya BABLAS, persis petasan roket klo udah meledak, keluarnya cuma Parasut doang.


15. Aktivis dua alam

NAAAAAAH, ini yang gak bener, DONT TRY THIS AT HOME !!!!. Da'wah juga, Maksiat juga.
udah bener2 jadi Aktivis, eh cuma gara2 ngumpul ma teman lama jadi RINDU masa2 Hedon ( NOSTALGILA ), akhirnya ngikut2 deh.

WAKTU TOBAT NANGIS-NANGIS....
UDAH BENER-BENER JADI AKTIVIS....
EEEEEH, KOK MAU BALIK JADI HEDONIS....


-----------------------------------------------


Sekian, mudah2 mudahan bermanfaat..
Yang benar dari Allah,
Apabila ada yang salah dari ana, mohon diingatkan..



BY : Fiqruddin Al-Intifadha

Rabu, 22 Juni 2011


Emilee Fatimah Zhen
(Putri ke-2 Marjito & Susi Okprianti)

Memuliakan Anak Perempuan
Oleh : Aris Solikhah
”Barangsiapa mempunyai anak perempuan, tidak dikuburkannya anak itu hidup-hidup, tidak dihinakannya, dan tidak dilebihkannya anaknya laki-laki dari perempuan itu, maka Allah memasukannya ke dalam surga dengan sebab dia.” (HR Abu Dawud).
Di masa Rasulullah, ada seroang ibu miskin membawa kedua putrinya ke hadapan Aisyah. Aisyah kemudian memberinya tiga kurma. Ibu miskin ini membagikan masing-masing satu kurma untuk anaknya dan sisanya untuk dirinya. Kedua anaknya makan dengan sangat lahap. Ketika sang ibu hendak memakan kurmanya, tiba-tiba kedua anaknya mencegahnya. Melihat kedua putrinya masih lapar, ibu miskin itu tidak memakan kurmanya dan malah membagi kurma menjadi dua bagian untuk masing-masing anaknya.
Aisyah mengadukan hal ini pada Rasulullah yang lalu bersabda, ”Barangsiapa yang ada padanya tiga orang anak perempuan dia bersabar dalam mengasuhnya, dalam susahnya dan dalam senangnya, dia akan dimasukkan Allah ke dalam surga, karena rahmat Allah terhadap anak-anak itu.”
Seorang laki-laki kemudian bertanya, ”Bagaimana kalau hanya dua, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Dan berdua pun begitu juga.” Datang pula seorang laki-laki bertanya, ”Bagaimana kalau hanya satu orang?” Beliau menjawab, ”Satu orang pun begitu juga!” (HR Al Hakim dari Abu Hurairah).
Dari hadis Rasulullah kita memahami betapa Islam sangat memuliakan anak perempuan. Seorang anak perempuan yang diasuh, dididik, dibina, diberikan penghidupan layak, tak dibedakan dengan anak laki-laki, tumbuh menjadi sosok solihah mampu membawa kedua orang tuanya ke surga.
Rasulullah secara khusus bersabda pada umatnya tentang keberuntungan anak perempuan dan memiliki saudara atau kerabat perempuan. “Barang siapa yang mengeluarkan belanja untuk dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, atau kaum kerabat perempuan yang patut disediakan belanja untuk keduanya, sehingga keduanya diberi Allah kecukupan atau kemampuan, jadilah keduanya itu dinding (pelindung) dari neraka.” (HR. Ibnu Hibban dan At Thabrani).
Memang Islam sudah mengangkat harkat martabat perempuan, namun dalam pelaksanaannya di masyarakat, terkadang sebuah keluarga dianggap belum sempurna tanpa kehadiran anak laki-laki. Anak perempuan masih dipandang sebelah mata. Menurut sebuah data, 1,4-2,1 juta perempuan Indonesia bekerja di luar negeri. Sering terdengar penganiayaan terhadap mereka. Belum lagi, sebanyak 240 ribu bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK). Saatnya menebar peduli bagi mereka.
***
Sumber: Republika.co.id

Senin, 20 Juni 2011

Artikel


Menahan Amarah
Oleh Wiyanto
bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu ‘ala rasuli-lLah wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba’d, assalamu ‘alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,
“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS 3: 134)
Saudaraku, ayat di atas menerangkan 3 tingkatan para wali:
Pertama, menahan amarahnya terhadap orang lain. Terkadang masih tersimpan dendam untuk membalas orang yang berbuat kesalahan terhadapnya.
Kedua, memaafkan kesalahan orang lain. Mengampuni kesalahan orang itu, tidak mencelanya, dan tidak ada dendam untuk membalas kejahatan orang itu.
Ketiga, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Memaafkan kesalahan orang itu, tidak ada dendam, mendoakan orang tersebut dan berbuat kebaikan.
Suatu hari, Khalifah Harun ar Rasyid sedang menjamu para undangan penting, di antaranya para menteri, gubernur, dan panglima perangnya. Tiba-tiba seorang budak yang bertugas membawa minuman menumpahkan kendi, dan basahlah baju sang khalifah. Dengan muka yang memerah sang khalifah menatap pelayan tersebut.
Pelayan yang cerdik itu berkata, “Wahai amirul mukminin, bukankah Allah berfirman, …dan orang-orang yang menahan amarahnya”.
Khalifah menjawab, “Aku telah menahan amarahku”.
Pelayan itu berkata lagi,”..dan mema`afkan (kesalahan) orang”.
Khalifah menjawab, “Aku telah mema’afkan kamu”.
Pelayan itu berkata lagi, “..dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Sang khalifah pun berkata, “Sekarang, aku memerdekakanmu karena Allah”.

Jumat, 17 Juni 2011

Artikel

Dengan Pernikahan Pintu Rezeki Terbuka


Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di kalangan kamu dan juga orang-orang yang layak menikah dikalangan hamba sahaya kamu laki-laki dan perempuan, jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurniaannya.Dan Allah maha Luas (Pemberiannya),lagi Maha Mengetahui (QS Annur :32)
Merupakan suatu perintah Allah agar segera menikahkan orang-orang yang masih bujang di kalangan kita.Bahkan seandainya kita termasuk golongan yang tidak mampu, jangan bimbang Allah swt sendiri akan memampukan kita.
Andai kita belum yakin dengan ayat Allah SWT perkataan apa lagi di dunia ini yang dapat menjadikan kita yakin terhadap sesuatu? Bah kan Rasullulah juga bersabda yang bermaksud:
“Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam kehidupan berkeluarga) “
(Hadith riwayat Imam Ad Dhalani) dalam Musnad Al Firdaus

Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah bersabda, “ 3 golongan yang akan selalu di beri pertolongan oleh Allah ialah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah swt ,seorang penulis yang selalu memberi penawar dan seorang yang menikah demi menjaga kehormatan dirinya” (Hadith riwayat Thabrani) dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ad Dur Al Mantsur.
Abu Bakar As Siddiq pernah berkata “ Taatlah kamu kepada Allah dalam apa yang diperintahkan kepadamu iaitu perkahwinan,maka Allah akan melestarikan janjiNYA kepadamu iaitu kekayaan”.
Allah telah berfirman “Jika mereka miskin Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan kurniaannya” (QS Annur:32)
Apa lagi alasan mereka yang telah diberi kesihatan tubuh badan ,keinginan yang kuat untuk bersama pasangan dan mempercayai Allah sebagai tuhan(ialah) untuk mengatakan diri ini belum memilih nikah sebagai jalan? Andai membujang itu suatu pilihan yang diberikan kepada mereka yang beriman.Maka ia adalah sesuatu yang dikategorikan sebagai kehinaan.
Rasullah bersabda lagi,Hadith Saad bin Abi Waqas berkata :
”Rasullulah saw melarang Uthman bin Mazun dari membujang,seandainya baginda merestuinya,pasti kami akan membujang” (Sahih Muslim)

Sabda baginda lagi: dari Anas ra, Rasullulah Al Ma’shum bersabda,
“Barangsiapa mempunyai anak perempuan yang telah mencapai umur 12tahun,lalu ia tidak segerakan mengahwinkannya kemudian anak perempuan tersebut melakukan dosanya di tanggung oleh ayahnya”. (Hadith riwayat Baihaqi)

Ibnu Ma’ud pernah mengatakan, “Seandai tinggal sepuluh hari sahaja dari usiaku ,niscaya aku tetap ingin kahwin agar aku tidak menghadap Allah dalam keadaan masih bujang”
Sahabat-sahabat sekalian,seandainya mahu merenung akan hadith-hadith ini,maka apa lagi yang dinanti,berusahalah sedaya upaya kita untuk menikah.Kerana hadith yang menyuruh bernikah berbunyi:
Abdullah bin Mas’ud ra: diriwayatkan dari Al Qamah ra katanya:
“Aku berjalan-jalan di Mina bersama Abdullah ra yang kemudian menghampiri Abdullah ra. Setelah berbincang beberapa ketika,Othman ra bertanya,wahai abu abdul rahman;mahukah aku jodhohkan kamu dengan seorang perempuan muda? Mudah mudahan perempuan itu akan dapat mengigatkan kembali masa lampau mu yang indah”

Mendengar tawaran itu Abdullah ra menjawab;
“Apa yang kamu ucapkan itu adalah sejajar dengan apa yang pernah di sabdakan oleh rasullulah saw kepada kami “
“Wahai golongan pemuda! Sesiapa di antara kamu yang telah mempunyai keupayaan iaitu zahir dan batin untuk berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin,sesungguhnya perkahwinan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan.maka sesiapa yang tidak berkemampuan,hendaklah dia berpuasa kerana puas itu dapat mengawal iaitu benteng nafsu”
(Hadith riwayat Muslim)

Seandainya kita telah berusaha sedaya upaya,serahkanlah semuanya pada Allah.Dialah yang memberi rezeki.Bukanlah orang itu termasuk dalam golongan tidak mampu,seandainya dia terus membiarkan dirinya saja,tidak berbuat apa-apa lalu apabila ditanyakan kepadanya lalu dia menjawab TIDAK MAMPU.Akan tetapi seorang yang tidak mampu adalah mereka yang telah berusaha sekuat hati ,namun hasilnya tetap di tahan oleh Allah SWT sebagai ujian untuk dirinya.
Seorang saudara mengadukan dirinya yang masih kurang iman kepada sahabatnya,
“Saya rasa masih tidak kuat lagi untuk menikah” .

Jawab sahabatnya,
“Justeru kerana kamu masih belum kuat imanlah kamu harus menyegerakan nikah, kan nikah itu menyempurnakan separuh dari agama ?”

Lantas di sebabkan iman kita yang kurang inilah kita harus segera bernikah.Bagaimana kalian sahabat-sahabat ku? Luruskan niatmu , jangan bernikah kerana keSERONOKan di dalamnya,jangan pula kerana orang mengatakannya BAIK atau apa sebab lain pun selain dari
Aku nikah kerana ALLAH dan RASUL SURUH !

Dan carilah pernikahan yang barakah.Zainab bin Jashyi dan Zaid bin Harithah yang cukup kuat iman mereka pun bercerai akhirnya.Zaid anak angkat Nabi,kekasih nabi,panglima perang ,manakala Zainab,ummul mukminin, satu figura yang tidak mungkin ada kelemahan dari imannya, mungkihkah lagi keimanan mereka diragukan.Lantas sahabat semua serahkan segalanya pada Allah SWT.
Bahagia bukan terletak pada kesenangan hidup,banyaknya harta,indahnya pasangan dan sebagainya.Bahagia itu terletak pada, firman Allah
“ Dan diantara tanda-tanda(kebesaran)Nya ilah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri,agar kamu cenderung dan berasa temteram kepadanya.Dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang”. (QS anRuum:21)

Wallahuallam Bishoab